Thursday, 19 March 2020

March 19, 2020 - Views

Info Post
Dalam rangka sosialisasi kunjungan apostolik Paus Fransiskus ke Uni Emirat Arab tahun 2019 lalu, Seksi Kerawam/HAK HTBSPM mengadakan talk show dengan judul “Membangun Perdamaian dan Menciptakan Hidup Harmonis Di Antara Umat Beragama” pada hari Minggu, 15 Maret 2020, mulai pukul 12.00. Sebanyak 110 peserta yang datang yang merupakan pengurus kring, korwil, kategorial, umat paroki, dan beberapa tamu dari paroki lain mendapatkan buku “Dokumen Tentang Persaudaraan Manusia : Untuk Perdamaian Dunia dan Hidup Bersama” sebagai bekal awal. Talkshow ini mengundang dua narasumber dengan latar belakang yang berbeda, yaitu Romo Agustinus Darwanto dari Paroki Melania dan Kang Wawan Gunawan dari Jaringan Kerja Antar Umat Beragama. Selain itu, hadir pula Bapak Albertus Wahyu Agung Prabowo sebagai moderator.

“Meski kita berbeda-beda, tetapi kita tetap damai antara yang satu dengan yang lain,” ungkap Ibu Elisabeth Emmy selaku ketua panitia dalam sambutannya.

Dalam sesi pertama yang dibawakan Romo Agustinus Darwanto, peserta diajak melihat dan mengakui keberagaman dalam masyarakat Indonesia. Meski demikian, Gereja berbicara banyak hal tentang dialog, yang diajarkan secara resmi melalui Magisterium. Adapun pengajaran tersebut merupakan hasil dari Konsili Vatikan ke II yang tertuang dalam Unitatis Redintegratio, Lumen Gentium, Nostra Aetate, dan Dignitatis Humanae. Berpedoman pada keempat dokumen tersebut, Romo Darwanto pun menjelaskan empat model dialog yang dapat menjadi jalan untuk meraih perdamaian dunia dan hidup bersama. Empat model dialog itu adalah Dialog Kehidupan yang terjadi dalam lingkungan sehari-hari di masyarakat, Dialog Karya (kerja sama), Dialog Teologis, dan Dialog Pengalaman Keagamaan (sharing iman).

Dalam sesi kedua, Kang Wawan Gunawan mengupas hubungan antara Islam dan Katolik berikut tantangan dan strategi implementasinya. Beliau menyebutkan bahwa relasi negatif antara Islam dan Kristen Katolik berawal dari ketidaktahuan dan prasangka yang melahirkan stereotype, stigma, kebencian, yang pada akhirnya menciptakan diskriminasi dan kejahatan.

Konflik berawal karena kita tidak ada ruang bertemu. Makanya pertemuan itu penting agar kita bisa saling memahami. Kita seringkali benci karena nggak kenal. Kalau udah kenal, ternyata semua manusia itu sama,” ungkap Kang Wawan yang juga aktif sebagai seorang dosen, penulis, dan peneliti.

Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi hubungan Islam-Kristen Katolik menjadi negatif adalah peristiwa perang salib, kolonialisme Portugis dan Belanda, dan Misi/Dakwah masing-masing agama. Maka, salah satu solusi yang ditawarkan oleh lulusan S2 Religius Studies UIN Sunan Gunung Jati Bandung ini adalah melalui strategi dialog antar sahabat yang kemudian menjadi dialog antar agama.

“Semoga perjumpaan hari ini memberi inspirasi untuk semua yang hadir, untuk menerima orang-orang yang memang berbeda dari kita namun tinggal di bumi yang sama dengan kita. Bukan untuk menyatukan agar semua sama, tetapi kita mau berusaha supaya kita bisa hidup bersama,” pesan RD Aloysius Wahyu ES yang ikut menikmati acara talkshow siang itu.

  E.R
Foto: Taufik Winardi

Lihat foto selengkapnya di :

GALERI FOTO

SHARE / BAGIKAN DENGAN LINK BERIKUT :

Share:

CARI DI SEMUA KONTEN